1. Mengupas Kebenaran Autis HP

 

Perkembangan teknologi dewasa ini semakin pesat dan canggih. Manusia berlomba-lomba membuat inovasi baru untuk mempermudah kegiatan atau pekerjaan mereka. Artificial Intelligence yang berfokus kecerdasan buatan yang dapat melampaui manusia.

Virtual Reality berfokus pada interaksi pengguna dengan lingkungan di dunia maya yang dijalankan oleh komputer. Kedua hal tersebut mungkin belum banyak diketahui. Hal yang mungkin lebih mudah dipahami adalah smartphone.

Hampir sebagian masyarakat di Indonesia telah memiliki smartphone pribadi. Smartphone yang ditawarkan memiliki beragam harga dan fitur-fitur yang menarik. Fitur yang menarik tersebut menjadikan orang-orang akan selalu menggunakan smartphone.

Perkembangan teknologi yang semakin canggih telah menuntut pengguna untuk semakin responsif terhadap banyak kepentingan. Hal ini juga berdampak dengan intensitas seseorang menggunakan smartphone. Pengguna idealnya hanya menggunakan smartphone selama 257 menit atau sekitar 4 jam 17 menit per hari.

Fakta lapangan mengungkapkan bahwa rata-rata penggunaan gadget ini di Indonesia sebesar 5,5 jam per hari.
Lama waktu penggunaan smartphone bisa dibuktikan dengan mudah. Ketika sedang pergi ke restoran, bisa dilihat selama perjalanan atau di lokasi, akan ada banyak orang yang sedang memegang smartphone.

Ada pula seseorang yang akan tertawa seraya melihat layar smartphone entah apa yang sedang mereka tonton. Terlalu sering menatap layar smartphone dengan berbagai kegiatan yang dilakukan lantas pernah terdengar kata ‘Autis HP’. Tidak tepat untuk menyebut Autis.

2. Bahaya dari “Autis HP”

Autis HP Sebutan ini ditujukan bagi pengguna yang terlalu candu dengan smartphone. Beberapa orang mengamini sebutan ini, kemudian berusaha mengurangi intensitas penggunaan smartphone. Ada pula yang merasa sebutan tersebut tidak tepat karena tidak mengetahui apa itu autisme.

Autis atau dalam bahasa psikologi Autism Spectrum Disorder meruapakan istilah yang diberikan medis untuk seseorang yang memiliki gangguan perkembangan otak. Gangguan ini bisa berkembang sejak seseorang masih kecil dan kadang terbawa hingga dewasa. Kata ‘spektrum’ berarti ada berbagai kelemahan yang dimiliki penderita, bisa perkembangan bahasa, lingkungan, atau perilaku.

Smartphone berhasil mendekatkan yang, namun menjauhkan yang dekat. Smartphone merupakan barang personal yang sudah menjadi barang yang harus dibawa. Pengguna smartphone menjadi asyik dengan dunia mereka dan melupakan orang-orang sekitar. Hal ini terlihat sama dengan kondisi yang dialami seorang yang menderita autisme. Penderita autisme cenderung memiliki dunia mereka sendiri dan mengabaikan kondisi yang nyata.

Kurangi intensitas penggunaan smartphone karena hal itu akan membahayakan mata. Manusia sebagai makhluk sosial sudah seharusnya saling berinteraksi dengan orang-orang dan lingkungan sekitar. Siapapun tidak ada yang melarang untuk menggunakan smartphone karena setiap orang memiliki kesibukan masing-masing dan membutuhkan smartphone untuk berkomunikasi.

Hal yang diperhatikan adalah jangan sampai pengguna smartphone melupakan keadaan sekitar yang masih membutuhkan. Waktu ideal menggunakan smartphone sudah tertera di atas dan boleh saja diterapkan. Seluruh teknologi memiliki radiasi yang memiliki dampak bagi mata, sehingga mata perlu beristirahat dari perangkat-perangkat tersebut.